Sabtu, 17 Januari 2026

GEMA BAIT KETIGA DI SERAMBI MADRASAH

    
      Lantai aula MAN 2 Ponorogo masih terasa dingin di bawah telapak kaki Rama, namun telapak tangannya justru berkeringat dingin. Di tangannya, selembar kertas berisi bait-bait puisi berjudul "Tangan yang menggengam Takdir" bergetar kecil. Ini adalah tahun ketiganya mengikuti Smest of Art Competition (SAC).
     Dua tahun lalu, Rama pulang dengan tangan hampa. Tahun pertama, suaranya gemetar karena demam panggung. Tahun kedua, ia terlalu percaya diri hingga lupa menghayati makna. Hari ini, di tahun terakhirnya sebagai siswa, SAC bukan sekadar lomba bagi Rama—ini adalah ajang penebusan.
Perjuangan di Balik Layar
     Rama teringat siang saat temannya belajar di kelas ia sempatkan untuk ke ruang BK maupun lab komputer. Ia tidak hanya menulis puisi, ia membedah setiap diksi. Latihan Intonasi semalam ia merekam suaranya sendiri, mendengarkan kembali, lalu memperbaikinya hingga larut malam. Konsultasi dengan guru sampai berkali-kali. Ia menemui pembina CBP untuk belajar cara mengambil napas di antara baris-baris metafora. "Jangan kejar piala, Ram. Kejar pesannya sampai ke hati juri," pesan ibunya pagi tadi.
     Rama selalu di dekat pembinanya ke manapun diikuti.. Apa katanya selalu dituruti. Rama.. Jangan lupa sholat malam dan sholat dhuha semoga diberikan happy hari ini sama Allah yaa, " Kata bu Sri ( pembina Rama) " Ya, bu.. Siap. " Jawab Rama selalu. Saat ku buka HP dengan penuh hati-hati kubuka pengumuman dari grub. Dan MasyaAllah... Nama Rama ada di urutan kedua. Alhamdulillah Alhamdulillah terkabul doamu dan doaku. Langsung ku hampiri si Rama dan langsung menutup mukanya menangis penuh haru🥺 Akupun ikut terharu. Setelah selesai makan siang, sholat dhuhur dan latihan sebentar di serambi masjid walaupun dengan rasa malu diliatin orang. Cuma 2 menit latihan langsung registrasi masuk kembali ke ruangan lomba. Tak henti- hentinya aku berdoa semoga dapat juara tiga besar. Tetapi saingannya sangat bagus- bagus. 
     Detik-Detik Penentuan "Peserta nomor urut 6,M.Dinulloh Ramadan," panggil pembawa acara. Rama melangkah ke tengah panggung. Lampu sorot menyilaukan mata, tapi ia tidak lagi menunduk. Ia menarik napas dalam, membayangkan setiap kata yang ia tulis adalah hembusan napasnya sendiri.
"Di atas kain usang ini, doa-doa melangit..." Suaranya menggema, berat dan mantap. Tidak ada lagi getaran demam panggung. Penonton terdiam. Juri yang semula sibuk mencatat, kini meletakkan pulpennya dan menatap lurus ke arah Rama. Ia menutup pembacaan dengan sebuah jeda panjang yang menyesakkan dada, sebelum akhirnya membungkuk hormat.
Akhir yang Manis
Pengumuman juara adalah saat yang paling mendebarkan. Nama-nama disebut satu per satu. Saat pembawa acara menyebutkan, "Juara kedua Cipta Baca Puisi SAC MAN 2 Ponorogo jatuh kepada... Muh Dinulloh Ramadan dari MTsN 5 Ponorogo"
Dunia seolah berhenti sejenak. Rama terpaku. Juara 2. Memang bukan yang pertama, tapi bagi Rama, ini adalah kemenangan mutlak atas rasa putus asanya selama dua tahun terakhir. Ia melangkah ke panggung dengan senyum paling tulus yang pernah ia miliki.
Piala perak itu terasa berat dan dingin di tangannya, namun hati Rama terasa hangat. Tiga kali mencoba, ribuan kali berlatih, dan akhirnya, namanya terukir dalam sejarah prestasi madrasahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Investasi atau Pemborosan? Menghitung Biaya Gaya Hidup Pegawai di Kedai Kopi Kekinian

Siapa di sini yang merasa nggak bisa mikir kalau belum kena iced oatmilk latte pagi-pagi? Atau yang jadwal meeting -nya lebih sering di kaf...