Rabu, 21 Januari 2026

Investasi atau Pemborosan? Menghitung Biaya Gaya Hidup Pegawai di Kedai Kopi Kekinian

Siapa di sini yang merasa nggak bisa mikir kalau belum kena iced oatmilk latte pagi-pagi? Atau yang jadwal meeting-nya lebih sering di kafe estetik daripada di ruang rapat kantor?

​Bagi sebagian besar pegawai kantoran, kedai kopi bukan cuma tempat beli minuman berkafein. Itu adalah "kantor kedua", tempat pelarian dari dinginnya AC kantor, atau sekadar ruang buat healing tipis-tipis di jam istirahat. Tapi, pernah nggak sih kamu iseng menghitung, sebenarnya hobi ngopi ini investasi buat produktivitas atau justru "pencuri" halus di dompet kamu?

​Mari kita bedah santai!

​Budaya "Nongkrong" yang Bergeser

​Dulu, ngopi identik dengan bapak-bapak di warung kopi sambil baca koran. Sekarang? Ngopi adalah identitas. Pegawai dengan laptop di meja kafe, lengkap dengan earbuds, sudah jadi pemandangan wajib. Ada istilah WFC (Work From Cafe) yang bikin kerjaan terasa lebih ringan (katanya).

​Secara psikologis, suasana kafe memang bisa jadi investasi mental. Suara ambient (obrolan samar dan bunyi mesin kopi) dipercaya sebagian orang bisa memicu kreativitas dibanding suasana kantor yang terlalu kaku.

​Mari Berhitung (Siapkan Kalkulator!)

​Kita coba pakai simulasi sederhana. Anggaplah harga satu cup kopi kekinian rata-rata Rp40.000.

  • Ngopi setiap hari kerja (20 hari/bulan): 20 x 40.000 = Rp800.000.
  • Kalau ditambah camilan (croissant atau cake): Anggap tambah Rp30.000 per kunjungan. Totalnya jadi Rp1.400.000/bulan.

​Bagi sebagian orang, angka 1,4 juta ini mungkin terlihat kecil. Tapi kalau dikalikan setahun? Kamu menghabiskan sekitar Rp16,8 juta hanya untuk kopi dan camilan. Angka yang cukup buat cicilan motor atau tiket liburan ke luar negeri, kan? Inilah yang sering disebut pakar keuangan sebagai Latte Factor—pengeluaran kecil yang rutin, tapi kalau dijumlahkan bikin kaget.

​Kapan Ngopi Jadi "Investasi"?

​Jangan merasa bersalah dulu! Ngopi di kafe bisa dibilang investasi kalau:

  1. Networking: Kamu bertemu klien atau rekan bisnis yang menghasilkan deal besar.
  2. Kesehatan Mental: Menghindari burnout parah. Kadang, secangkir kopi adalah satu-satunya alasan kita tetap waras menghadapi deadline.
  3. Fasilitas: Kamu butuh Wi-Fi kencang atau suasana tenang yang nggak didapat di rumah/kantor.

​Kapan Ngopi Jadi "Pemborosan"?

​Kalau sudah masuk kategori ini, kamu harus waspada:​

1) Hanya Demi Konten: Beli kopi mahal cuma buat difoto, tapi sebenarnya nggak terlalu suka rasanya.​

2) Gengsi Teman Kantor: Ikut-ikutan pesan karena nggak enak kalau sendirian nggak beli, padahal saldo ATM sudah menjerit.​

3) Lupa Diri: Ngopi tiap hari tapi tagihan kartu kredit atau pinjol belum lunas.

​Tips Tetap Eksis Tanpa Kantong Tipis

​Gaya hidup ke kafe itu sah-sah saja, asalkan pintar strateginya:

1) ​Batas Maksimal (Cap): Patok maksimal ngopi di kafe luar cukup 2 kali seminggu. Sisanya? Bikin kopi sendiri atau manfaatkan kopi gratis di kantor.​

2) Manfaatkan Promo: Pakai poin loyalitas, promo kartu debit/kredit, atau buy 1 get 1.​

3) Bawa Tumbler: Beberapa kafe kasih diskon kalau kamu bawa botol minum sendiri. Lumayan, kan, buat bumi dan dompet?

​Kesimpulan

​Jadi, investasi atau pemborosan? Jawabannya ada di tanganmu. Kalau ngopi di kafe bikin kerjaanmu makin lancar dan kariermu naik, itu investasi. Tapi kalau kerjaan tetap jalan di tempat sementara tabungan makin sekarat, mungkin sudah saatnya kamu mulai melirik kopi saset di dapur kantor.

​Ngopi itu boleh, yang penting jangan sampai "kopi pahit" di awal bulan karena saldo sudah habis duluan!

Sabtu, 17 Januari 2026

Analisis Strategis: Kenapa Sertifikat Kejuaraan Benar-benar Berpengaruh buat Masa Depan?

Sekarang ini, jadi pelajar yang "biasa-biasa saja" rasanya sudah tidak cukup. Nilai rapor yang bagus memang penting, tapi kalau mau jujur, ribuan pelajar lain juga punya nilai yang sama bagusnya. Di sinilah sertifikat kejuaraan masuk sebagai pembeda. Sertifikat itu bukan cuma selembar kertas hasil menang lomba, tapi adalah bukti nyata kalau kita punya "sesuatu" yang lebih dibanding yang lain.

​Dunia pendidikan tinggi sekarang, apalagi kalau kita bicara soal jalur prestasi atau beasiswa, tidak lagi cuma melihat angka. Mereka mencari karakter. Saat kita melampirkan sertifikat juara—entah itu juara esai, olahraga, atau lomba robotik—kita sebenarnya sedang bercerita tanpa suara.

​Sertifikat itu bilang ke kampus impian kita: "Saya adalah orang yang tahan banting, mau berlatih keras, dan berani diuji mentalnya." Kampus atau penyedia beasiswa lebih suka memilih orang yang sudah teruji di lapangan daripada yang hanya jago di dalam kelas.

​Nantinya, pas kita cari kerja, HRD atau bos di perusahaan tidak akan tanya, "Dulu nilai matematika kamu di semester 4 berapa?". Mereka lebih tertarik pada rekam jejak. Memiliki sertifikat kejuaraan itu ibarat punya "pangkat" tambahan.

​Perusahaan tahu kalau anak yang pernah juara biasanya punya soft skills yang oke. Mereka pasti tahu cara kerja sama tim, tahu rasanya gagal lalu bangkit lagi, dan punya ambisi untuk jadi yang terbaik. Di mata mereka, kita bukan lagi "kandidat yang butuh diajari dari nol", tapi "pemain yang siap tanding".

​Satu hal yang sering orang lupa adalah apa yang ada di balik lomba itu sendiri: Relasi. Saat ikut kejuaraan, kita ketemu orang-orang hebat lainnya—juri yang ahli di bidangnya, atau teman sebaya yang punya ambisi sama. Sertifikat itu adalah bukti kalau kita pernah berada di "lingkaran" orang-orang berprestasi tersebut. Seringkali, peluang kerja atau proyek besar datang justru dari kenalan-kenalan saat kita ikut lomba dulu.

​Intinya, sertifikat kejuaraan itu adalah investasi. Mungkin sekarang rasanya capek harus latihan atau belajar buat lomba, tapi hasilnya bakal terasa banget pas kita mau lanjut kuliah atau cari kerja. Itu adalah cara terbaik buat bilang ke dunia kalau kita siap bersaing dan punya kualitas yang bisa diandalkan

Mematikan Mesin Organisasi: Dampak Kepala Madrasah yang Terlalu Mendikte

Kekurangan pertama dan yang paling terasa adalah hilangnya "nyawa" dalam mengajar. Guru adalah seniman di dalam kelas. Ketika seorang kepala madrasah mengatur tugas guru secara berlebihan, hingga ke teknis terkecil yang seharusnya menjadi ranah profesional guru, kreativitas pun mati. Guru tidak lagi mengajar dengan hati atau mencari cara unik agar muridnya paham, melainkan hanya bekerja untuk menggugurkan kewajiban administratif. Kelas menjadi kaku, dan murid kehilangan kesempatan untuk belajar dari sosok guru yang inspiratif dan berani berinovasi.

​Selain itu, gaya kepemimpinan yang terlalu mendominasi menciptakan tembok ketidakpercayaan. Manusia, secara naluriah, akan merasa kecil dan tidak berharga jika setiap langkahnya didikte. Guru yang terus-menerus diatur tanpa diberi ruang untuk berpendapat akan kehilangan rasa memiliki (sense of belonging) terhadap madrasah. Dampaknya? Muncul budaya "asal bapak senang". Guru menjadi pasif, tidak berani mengambil inisiatif, dan hanya bergerak jika ada perintah. Di titik ini, madrasah tidak lagi memiliki tim yang solid, melainkan hanya sekumpulan orang yang bekerja di bawah tekanan.

​Dampak buruk lainnya justru kembali kepada sang pemimpin itu sendiri. Seorang Kepala Madrasah yang sibuk mengurusi hal-hal teknis yang seharusnya bisa didelegasikan akan kehilangan pandangan strategisnya. Ia seperti seorang kapten kapal yang sibuk membersihkan dek hingga lupa melihat kompas dan arah badai di depan. Fokusnya tersedot pada hal-hal kecil, sehingga pengembangan madrasah ke arah yang lebih modern dan kompetitif menjadi terabaikan.

​Akhirnya, kita harus menyadari bahwa madrasah yang maju lahir dari tangan guru-guru yang merasa berdaya, dipercaya, dan dihargai. Kepemimpinan sejati bukanlah tentang seberapa banyak perintah yang kita berikan, melainkan seberapa banyak ruang yang kita buka bagi orang lain untuk tumbuh. Seorang kepala madrasah yang hebat adalah mereka yang mampu menjadi dirigen dalam sebuah orkestra: ia memberi arahan, namun tetap membiarkan setiap pemusik memainkan instrumennya dengan penuh perasaan.

Memimpin dengan Hati, Bukan Sekadar Instruksi: Dampak Mikromanajemen di Madrasah

Madrasah bukan sekadar gedung tempat transfer ilmu, melainkan sebuah ekosistem hidup yang di dalamnya terdapat interaksi antara manusia, ide, dan spiritualitas. Di puncak struktur organisasi ini, berdiri seorang Kepala Madrasah. Namun, seringkali terjadi sebuah kekeliruan dalam memandang kepemimpinan: ada anggapan bahwa semakin ketat seorang kepala mengatur setiap jengkal tugas gurunya, maka semakin disiplin sekolah tersebut. Padahal, kepemimpinan yang terlalu mengontrol atau sering disebut mikromanajemen justru bisa menjadi "racun" yang mematikan semangat pendidikan itu sendiri.

Kekurangan pertama dan yang paling terasa adalah hilangnya "nyawa" dalam mengajar. Guru adalah seniman di dalam kelas. Ketika seorang kepala madrasah mengatur tugas guru secara berlebihan, hingga ke teknis terkecil yang seharusnya menjadi ranah profesional guru, kreativitas pun mati. Guru tidak lagi mengajar dengan hati atau mencari cara unik agar muridnya paham, melainkan hanya bekerja untuk menggugurkan kewajiban administratif. Kelas menjadi kaku, dan murid kehilangan kesempatan untuk belajar dari sosok guru yang inspiratif dan berani berinovasi.

​Selain itu, gaya kepemimpinan yang terlalu mendominasi menciptakan tembok ketidakpercayaan. Manusia, secara naluriah, akan merasa kecil dan tidak berharga jika setiap langkahnya didikte. Guru yang terus-menerus diatur tanpa diberi ruang untuk berpendapat akan kehilangan rasa memiliki (sense of belonging) terhadap madrasah. Dampaknya? Muncul budaya "asal bapak senang". Guru menjadi pasif, tidak berani mengambil inisiatif, dan hanya bergerak jika ada perintah. Di titik ini, madrasah tidak lagi memiliki tim yang solid, melainkan hanya sekumpulan orang yang bekerja di bawah tekanan.

​Dampak buruk lainnya justru kembali kepada sang pemimpin itu sendiri. Seorang Kepala Madrasah yang sibuk mengurusi hal-hal teknis yang seharusnya bisa didelegasikan akan kehilangan pandangan strategisnya. Ia seperti seorang kapten kapal yang sibuk membersihkan dek hingga lupa melihat kompas dan arah badai di depan. Fokusnya tersedot pada hal-hal kecil, sehingga pengembangan madrasah ke arah yang lebih modern dan kompetitif menjadi terabaikan.

​Akhirnya, kita harus menyadari bahwa madrasah yang maju lahir dari tangan guru-guru yang merasa berdaya, dipercaya, dan dihargai. Kepemimpinan sejati bukanlah tentang seberapa banyak perintah yang kita berikan, melainkan seberapa banyak ruang yang kita buka bagi orang lain untuk tumbuh. Seorang kepala madrasah yang hebat adalah mereka yang mampu menjadi dirigen dalam sebuah orkestra: ia memberi arahan, namun tetap membiarkan setiap pemusik memainkan instrumennya dengan penuh perasaan.

GEMA BAIT KETIGA DI SERAMBI MADRASAH

    
      Lantai aula MAN 2 Ponorogo masih terasa dingin di bawah telapak kaki Rama, namun telapak tangannya justru berkeringat dingin. Di tangannya, selembar kertas berisi bait-bait puisi berjudul "Tangan yang menggengam Takdir" bergetar kecil. Ini adalah tahun ketiganya mengikuti Smest of Art Competition (SAC).
     Dua tahun lalu, Rama pulang dengan tangan hampa. Tahun pertama, suaranya gemetar karena demam panggung. Tahun kedua, ia terlalu percaya diri hingga lupa menghayati makna. Hari ini, di tahun terakhirnya sebagai siswa, SAC bukan sekadar lomba bagi Rama—ini adalah ajang penebusan.
Perjuangan di Balik Layar
     Rama teringat siang saat temannya belajar di kelas ia sempatkan untuk ke ruang BK maupun lab komputer. Ia tidak hanya menulis puisi, ia membedah setiap diksi. Latihan Intonasi semalam ia merekam suaranya sendiri, mendengarkan kembali, lalu memperbaikinya hingga larut malam. Konsultasi dengan guru sampai berkali-kali. Ia menemui pembina CBP untuk belajar cara mengambil napas di antara baris-baris metafora. "Jangan kejar piala, Ram. Kejar pesannya sampai ke hati juri," pesan ibunya pagi tadi.
     Rama selalu di dekat pembinanya ke manapun diikuti.. Apa katanya selalu dituruti. Rama.. Jangan lupa sholat malam dan sholat dhuha semoga diberikan happy hari ini sama Allah yaa, " Kata bu Sri ( pembina Rama) " Ya, bu.. Siap. " Jawab Rama selalu. Saat ku buka HP dengan penuh hati-hati kubuka pengumuman dari grub. Dan MasyaAllah... Nama Rama ada di urutan kedua. Alhamdulillah Alhamdulillah terkabul doamu dan doaku. Langsung ku hampiri si Rama dan langsung menutup mukanya menangis penuh haru๐Ÿฅบ Akupun ikut terharu. Setelah selesai makan siang, sholat dhuhur dan latihan sebentar di serambi masjid walaupun dengan rasa malu diliatin orang. Cuma 2 menit latihan langsung registrasi masuk kembali ke ruangan lomba. Tak henti- hentinya aku berdoa semoga dapat juara tiga besar. Tetapi saingannya sangat bagus- bagus. 
     Detik-Detik Penentuan "Peserta nomor urut 6,M.Dinulloh Ramadan," panggil pembawa acara. Rama melangkah ke tengah panggung. Lampu sorot menyilaukan mata, tapi ia tidak lagi menunduk. Ia menarik napas dalam, membayangkan setiap kata yang ia tulis adalah hembusan napasnya sendiri.
"Di atas kain usang ini, doa-doa melangit..." Suaranya menggema, berat dan mantap. Tidak ada lagi getaran demam panggung. Penonton terdiam. Juri yang semula sibuk mencatat, kini meletakkan pulpennya dan menatap lurus ke arah Rama. Ia menutup pembacaan dengan sebuah jeda panjang yang menyesakkan dada, sebelum akhirnya membungkuk hormat.
Akhir yang Manis
Pengumuman juara adalah saat yang paling mendebarkan. Nama-nama disebut satu per satu. Saat pembawa acara menyebutkan, "Juara kedua Cipta Baca Puisi SAC MAN 2 Ponorogo jatuh kepada... Muh Dinulloh Ramadan dari MTsN 5 Ponorogo"
Dunia seolah berhenti sejenak. Rama terpaku. Juara 2. Memang bukan yang pertama, tapi bagi Rama, ini adalah kemenangan mutlak atas rasa putus asanya selama dua tahun terakhir. Ia melangkah ke panggung dengan senyum paling tulus yang pernah ia miliki.
Piala perak itu terasa berat dan dingin di tangannya, namun hati Rama terasa hangat. Tiga kali mencoba, ribuan kali berlatih, dan akhirnya, namanya terukir dalam sejarah prestasi madrasahnya.

Selasa, 13 Januari 2026

Bukannya Aku Rakus

Saat langkah ku berjalan di segala penjuru
Datanglah tuan berkasta tinggi
Saat itu pula masuk dalam lingkaran langkah yang tertatih- tatih meraih impian
Dengan rasa takut, tunduk ku tak bisa berkutik
Diam diam dan harus diam
Begitu langkah mereka tertatih 
Aku kau dan dia terikat pada sebuah tall iikatan  yang tak bisa diurai. 
Langkah ku terhenti pada sebuah lingkaran Dan terikat di pojok ini
Tak bisa melangkah lagi ke penjuru yang kumau
Pada titik tengah lingkaran ini kukan terdiam dan melihat kekuatan langkahku membeku seperti dulu
Akan kucoba dan pandangi langkah- langkah itu bergerak di tempat sudut itu
Ku kan coba gali di sudut lain di mana dapat kutemukan segala inginku

Sabtu, 01 November 2025

KATA YANG TIDAK BIASA

    

     Kata yang membuat heboh ! apa itu penasaran ...?Ingin tahu atau gamau tahu? Kata "ANJIR, ANJAY, JANCUK" kata tersebut seperti biasa terdengar di telinga kita. Di sebuah percakapan anak remaja yang lagi santai mengucapkan kata yang tak layak diucapkan. Mereka tidak paham kalau arti dari kata itu sebenarnya anjing. Tetapi karena kata itu digunakan untuk mengungkapkan mengekspresikan keterkejutan atau kekesalan dan menyampakan kekaguman atau pujan ringan.Maka terkesan tdak sopan dan kasar. Maka saat ini di larang oleh masyarakat.

Adapun Larangan tu juga dijelaskan oleh Al Qur'an

                                                                                                                                                                    

ูˆَู‚ُู„ْ ู„ِّุนِุจَุงุฏِู‰ۡ ูŠَู‚ُูˆูۡ„ُูˆุง ุงู„َّุชِู‰ۡ ู‡ِู‰َ ุงَุญุۡณَู†ُ​ؕ ุงِู†َّ ุงู„ุดَّูŠุۡทٰู†َ ูŠَู†ุۡฒَุบُ ุจَูŠูۡ†َู‡ُู…ۡ​ؕ ุงِู†َّ ุงู„ุดَّูŠุۡทٰู†َ ูƒَุงู†َ ู„ِู„ุۡงِู†ุۡณَุงู†ِ ุนَุฏُูˆًّุง ู…ُّุจِูŠูۡ†ًุง‏ ( ุงู„ุงุณุฑุงุก : 53)

“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sungguh, setan itu (selalu) menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sungguh, setan adalah musuh yang nyata bagi manusia”. (QS. Al-Isra: 53).

ุนَู†ْ ุฃَุจِูŠ ู‡ُุฑَูŠْุฑَุฉَ ุฑَุถِูŠَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู†ْู‡ُ ุฃَู†َّ ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ู‚َุงู„َ: “ู…َู†ْ ูƒَุงู†َ ูŠُุคْู…ِู†ُ ุจِุงู„ู„َّู‡ِ ูˆَุงู„ْูŠَูˆْู…ِ ุงู„ْุขุฎِุฑِ ูَู„ْูŠَู‚ُู„ْ ุฎَูŠْุฑًุง ุฃَูˆْ ู„ِูŠَุตْู…ُุชْ.”

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

     Bahasa yang digunakan oleh seorang Muslim sangat penting karena dapat mencerminkan akhlak dan adab seseorang. Bahasa yang baik dan santun adalah bagian dari akhlak mulia yang menjadi anjuran dalam Islam. Secara umum, penggunaan kata-kata seperti “anjay,” “anjir,” dan “anjrit” sebaiknya dihindari karena tidak jarang bisa menimbulkan penghinaan dan menyakiti hati orang lain. Serta dapat menyerupai atau meniru perilaku, gaya hidup, atau budaya orang-orang yang fasiq. Maka, sudah sewajarnya bagi kita untuk membahas tentang “hukum mengucapkan kata-kata “anjay,” “anjir,” dan “anjrit.” dalam obrolan sehari-hari baik dalam bentuk keakraban, candaan atau sebagai makian”, sebagai bentuk kepedulian kita terhadap sesama muslim agar tidak terjerumus kedalam kesalahan.

     Berikut adalah dua poin yang perlu kita pahami dalam menjawab dan memberikan hukum terhadap persoalan di atas :

  1. Hukum mengucapkan kata-kata di atas sebagai bentuk ekspresi keterkejutan, kekaguman, atau keheranan
  2. Hukum mengucapkan kata-kata di atas sebagai bentuk candaan, keakraban , dan makian terhadap orang lain

Pembahasan

     Islam sangat menekankan pentingnya berbicara dengan sopan dan menggunakan bahasa yang baik ketika berbicara terhadap orang lain. Serta menghindari perkataan yang kasar, menghina, atau merendahkan orang lain. Semua itu telah terdapat aturan dalam Al-Qur’an dan Hadits tentang penggunaan bahasa yang baik dan santun.

Investasi atau Pemborosan? Menghitung Biaya Gaya Hidup Pegawai di Kedai Kopi Kekinian

Siapa di sini yang merasa nggak bisa mikir kalau belum kena iced oatmilk latte pagi-pagi? Atau yang jadwal meeting -nya lebih sering di kaf...