Kekurangan pertama dan yang paling terasa adalah hilangnya "nyawa" dalam mengajar. Guru adalah seniman di dalam kelas. Ketika seorang kepala madrasah mengatur tugas guru secara berlebihan, hingga ke teknis terkecil yang seharusnya menjadi ranah profesional guru, kreativitas pun mati. Guru tidak lagi mengajar dengan hati atau mencari cara unik agar muridnya paham, melainkan hanya bekerja untuk menggugurkan kewajiban administratif. Kelas menjadi kaku, dan murid kehilangan kesempatan untuk belajar dari sosok guru yang inspiratif dan berani berinovasi.
Selain itu, gaya kepemimpinan yang terlalu mendominasi menciptakan tembok ketidakpercayaan. Manusia, secara naluriah, akan merasa kecil dan tidak berharga jika setiap langkahnya didikte. Guru yang terus-menerus diatur tanpa diberi ruang untuk berpendapat akan kehilangan rasa memiliki (sense of belonging) terhadap madrasah. Dampaknya? Muncul budaya "asal bapak senang". Guru menjadi pasif, tidak berani mengambil inisiatif, dan hanya bergerak jika ada perintah. Di titik ini, madrasah tidak lagi memiliki tim yang solid, melainkan hanya sekumpulan orang yang bekerja di bawah tekanan.
Dampak buruk lainnya justru kembali kepada sang pemimpin itu sendiri. Seorang Kepala Madrasah yang sibuk mengurusi hal-hal teknis yang seharusnya bisa didelegasikan akan kehilangan pandangan strategisnya. Ia seperti seorang kapten kapal yang sibuk membersihkan dek hingga lupa melihat kompas dan arah badai di depan. Fokusnya tersedot pada hal-hal kecil, sehingga pengembangan madrasah ke arah yang lebih modern dan kompetitif menjadi terabaikan.
Akhirnya, kita harus menyadari bahwa madrasah yang maju lahir dari tangan guru-guru yang merasa berdaya, dipercaya, dan dihargai. Kepemimpinan sejati bukanlah tentang seberapa banyak perintah yang kita berikan, melainkan seberapa banyak ruang yang kita buka bagi orang lain untuk tumbuh. Seorang kepala madrasah yang hebat adalah mereka yang mampu menjadi dirigen dalam sebuah orkestra: ia memberi arahan, namun tetap membiarkan setiap pemusik memainkan instrumennya dengan penuh perasaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar